FOOD REVOLUTION DAY JAKARTA

Indonesia will be hosting Food Revolution Day in May 19 at Warkop Nusantara Jakarta [...]

INTERNATIONAL FOOD DAY

Aksi simpatik i-food memperingati hari pangan sedunia, 16 oktober 2011 di Bundaran Hotel Indonesia. Dalam aksi ini i-food mengajak warga jakarta untuk kembali mengkonsumsi pangan lokal dan menegakkan kedaulatan pangan[...]

Petisi Pemuda Peduli Pangan

If you are going [...]

STOP IMPOR PANGAN

I-FOOD Goes to Campus - UB Malang

Diskusi Publik dan penggaangan petisi dukungan kedaulatan pangan bersama sobat-sobat muda di kampus Universitas Brawijaya Malang.

Rabu, 18 April 2012

Singkong Bisa Jadi Pengganti Beras, Mungkinkah?


fikiri adin/antara

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Singkong atau ubi kayu berpotensi sebagai pengganti beras. Hal ini penting dilakukan untuk peningkatan diversifikasi makanan.

"Singkong dapat menjadi pengganti beras yang sangat potensial untuk menunjang diversifikasi makanan,"ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Ahmad Suryana dalam acara dialog publik 'Mengangkat Gengsi Singkong untuk Memantapkan Ketahanan Pangan', Selasa (17/4).

Menurut dia, singkong atau ubi kayu merupakan sumber karbohidrat terpenting ketiga setelah beras dan jagung. Selain itu, juga dapat menjadi sumber pangan pokok lokal nasional dengan tingkat produktivitas yang tinggi.

Terlebih, tingkat produktivitas singkong cenderung meningkat tiap tahun. Pada tahun 2011, produktivitas mencapai 19,5 ton per hektare dari 1,2 juta hektare luas panen yang menghasilkan sekitar 20,409 juta ton singkong basah.

"Produktivitas singkong meningkat dalam sepuluh tahun terakhir, meskipun luas panen menurun,"tambahnya.

Namun, demikian produksi singkong cenderung naik dengan rata-rata 4,3 persen per tahun. Singkong juga dalam perkembangan penelitian dan inovasi teknologi tinggi dapat diolah menjadi makanan bernilai jual tinggi. Seperti, Mocaf, tepung Cassava terfermentasi yang bisa menjadi alternatif pengganti tepung gandum yang selama ini masih diimpor.

"Singkong dapat digunakan untuk food, feed, dan fuel,"kata Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Suharyo Husen.

Suharyo juga menambahkan bahwa, kegunaan tanaman singkong sangat beraneka ragam, mulai dari umbi untuk food, feed, fuel dan biodegradable plastic, batangnya yang tua untuk bibit, batang muda dan daun untuk pakan ternak, bonggol setelah umbinya diambil dapat dijadikan pupuk organik dengan dicampur kotoran hewan (sapi atau ayam).

Untuk itu, peluang pengembangan aneka olahan singkong sangat terbuka luas bagi masyarakat, sehingga singkong tidak hanya menjadi makanan kelas dua dan hanya dikonsumsi oleh penduduk desa.

Peningkatan diversifikasi makanan terhadap singkong ini juga dilakukan untuk menurunkan impor beras dan tepung gandum. Sehingga, dapat meningkatkan ekspor pangan lokal berupa singkong.
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Aghia Khumaesi

By Administrator with

Senin, 16 April 2012

Peneliti IPB Lahirkan Produk Pangan Mirip Beras

Metrotvnews.com, Bogor: Peneliti F-Technopark Institut Pertanian Bogor melahirkan produk pangan alternatif mirip beras. Produk tersebut diberi nama "beras analog".

"Produk mirip beras yang kita kembangkan dibuat dari tepung lokal selain beras dan terigu," kata Direktur F-Tecnopark Fakultas Teknologi Pertanian IPB Slamet Budijanto di Bogor, Jawa Barat, Ahad (15/4). 

Slamet menjelaskan, peneliti di perguruan tinggi dan badan penelitian ada yang menyebutnya "beras artifical", "beras tiruan" dan lainnya.

Produk pangan tersebut, lanjut Slamet, dirancang khusus untuk menghasilkan sifat fungsional dengan menggunakan bahan tepung lokal, seperti sorgum, sagu, umbi-umbian dan bisa ditambahkan "ingridient" pangan, seperti serat, antioksidan dan lainnya yang diinginkan.

Menurutnya, di China dan Filipina, diproduksi dari beras menir menjadi beras utuh untuk kebutuhan fortifikasi vitamin atau mineral tertentu.

"Di antaranya untuk fortifikasi zat besi," katanya menambahkan.

Mengenai teknologi pembuatannya, Technopark menggunakan teknologi ekstrusi menggunakan "tween screw extruder" dengan "dye" yang dirancang khusus dengan mengatur kondisi proses dan formulanya.

Secara umum, teknologi ekstrusi memungkinkan untuk melakukan serangkaian proses pengolahan seperti mencampur, menggiling, memasak, mendinginkan, mengeringkan dan mencetak dalam satu rangkaian proses.

Rincian tahapan proses dalam pembuatan beras analog itu melalui tujuh tahapan. Mengenai bahan baku, ia menjelaskan yang digunakan dari sumber karbohidrat adalah tepung umbi-umbian, seperti ubikayu, ubijalar, talas, garut ganyong dan umbi lainnya, tepung jagung, tepung sorgum, tepung hotong, sagu, dan sagu aren.

Untuk sumber protein berasal dari kedelai, kacang merah atau sumber lainnya.

Sedangkan "ingridient" lainnya berupa "stabilized rice bran" (sumber seratI, minyak merah (antioksidan), vitamin, mineral, serta "ingridient" lainnya.

Keunggulan dari produk tersebut adalah lebih awet, pada waktu menanak tidak perlu pencucian, dapat dimasak persis beras.

Dikemukakannya, bahwa keunggulan utama lainnya adalah produk pangan tersebut menggunakan bahan baku lokal 100 persen.

Sedangkan kelemahannya, dari beberapa kajian yang telah dilakukan dan studi referensi, biaya produksi produk pangan tersebut masih relatif mahal, sekitar Rp9.000 hingga Rp14.000 per kilogram, tergantung "ingridient" yang digunakan.

"Kelemahan lainnya, warnanya belum dapat menyerupai beras putih," katanya.(Ant/RIZ)

By Administrator with

Senin, 29 Agustus 2011

Petisi Foto Kedaulatan Pangan




Dengan berkat Tuhan Yang Maha Adil, kami yang bertanda tangan di bawah ini, warga negara yang mengungkapkan Petisi Kedaulatan Pangan Rakyat Indonesia: Bahwa sesungguhnya pangan adalah hak asasi manusia. Dan oleh sebab itu, kelaparan dan malnutrisi harus dihapuskan. Kedaulatan pangan merupakan hak dari segala bangsa di dunia ini untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya untuk berkecukupan pangan, berbagi secara sukarela dan bergotong royong dengan bangsa-bangsa lainnya. Telah lama petani, produsen, dan konsumen pangan di negeri ini ditindas. Dominasi produksi pangan oleh korporasi telah menempatkan keuntungan di atas kepentingan rakyat, terutama kesehatan dan kelestarian lingkungan. Privatisasi dan komodifikasi pangan, jasa dan pelayanan publik, pengetahuan, tanah, air dan benih telah membuat rakyat tidak berdaulat di atas buminya sendiri. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia selayaknya membuat bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Rakyat Indonesia adalah pekerja keras yang siap, mau dan mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional. Terutama para perempuan yang merupakan ujung tombak produsen pangan dan benteng pertahanan kearifan lokal. Produksi pangan di negeri ini harus membuat rakyatnya hidup bermartabat serta memiliki penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Untuk mewujudkan kedaulatan pangan, dalam rangka menihilkan kelaparan dan malnutrisi, serta mewujudkan sistem pangan yang lebih adil dimana tidak ada penindasan manusia satu atas manusia lain, maka kedaulatan pangan harus bersendikan pada hal-hal berikut: - Pembaruan agraria yang memastikan hak penggarap untuk menguasai tanah pertanian, sesuai dengan UUD 1945 dan UU Pokok Agraria No. 5/1960 dengan memperhatikan kesetaraan gender. - Pertanian kecil berbasis keluarga tani sebagai soko guru dari perekonomian pedesaan dan motor penggerak perekonomian bangsa kedaulatan pangan juga berarti mempraktikkan pertanian berkelanjutan yang menjaga keanekaragaman hayati, mengurangi ketergantungan input luar, dan memandirikan pertanian di Indonesia. - Pembangunan industri nasional berbasis pertanian, kelautan dan keanekaragaman hayati untuk memungkinkan usaha-usaha mandiri, pembangunan infrastruktur pedesaan dan pembukaan lapangan kerja untuk menghindari ketergantungan pada pangan impor. - Pembangunan sistem pasar dan harga lokal yang adil, dengan mengutamakan usaha kecil dan menengah rakyat pedesaan, serta menolak sistem kapitalistik-neoliberal berdasarkan pasar bebas. - Pendayagunaan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menjadi penyangga pangan di Indonesia untuk memastikan mengendalikan tata niaga, distribusi dari hasil produksi pangan petani Indonesia, khususnya padi, kedelai, jagung, kedelai, minyak goreng dan sembako lainnya. - Adanya perlindungan sosial, menjamin pemenuhan pangan, pendidikan, kesehatan bagi semua warga negara, khususnya para buruh dengan menjamin kepastian kerja dan menghapus sistem upah murah. - Tersedianya jaminan bagi rakyat miskin, dengan mengutamakan makanan bagi para ibu dan anak, dan kelompok rentan lainnya. Kami rakyat Indonesia akan terus berjuang untuk bisa menegakkan kedaulatan pangan demi melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia—menuju masa depan yang adil dan makmur


Dukung Kedaulatan Pangan dengan mengisi form di bawah ini:






*Wajib diisi

By Yuyun Harmono with No comments

Minggu, 14 Agustus 2011

Seruan Bangkit Untuk Pemuda Indonesia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sebagai momentum Hari Pemuda Internasional pada hari ini, beberapa gabungan komunitas pemuda Indonesia mengkampanyekan peduli pangan di negeri ini Jumat (12/8/2011).
Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta Pusat sebagai tempat mereka meneriakkan kata bangkit untuk para pemuda Indonesia.
Detha Arya Tifada mengatakan bahwa aksi tersebut juga diusung oleh beberapa komunitas pemuda yang perduli pertumbuhan pangan masyarakat Indonesia saat ini. Diantaranya, Green Student Movement, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sahid, Green Planet Suporters President University, Hima Agrometeorologi IPB, Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia (LSADI), Komunitas Solidaritas Untuk Alam, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Koalisi Anti Utang (KAU), dan Serikat Petani Indonesia.
Aksi yang bertemakan “hungry for change, its time to act, for food, sovereignty” ini akan dilakukan di berbagai universitas wilayah Jabodetabek sampai akhir bulan Agustus 2011. Terang Detha Arya Tifada selaku koordinator komunitas tersebut kepada wartawan.

By Administrator with No comments

LOMBA Foto Kedaulatan pangan untuk mahasiswa

download poster versi pdf disini


Kedaulatan pangan adalah hak setiap bangsa dan rakyat untuk memproduksi pangan secara mandiri serta hak untuk menetapkan sistem pertanian, peternakan, dan perikanan tanpa adanya subordinasi dari kekuatan pasar internasional.

Kedaulatan pangan juga merupakan hak dari segala bangsa di dunia ini untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya untuk berkecukupan pangan, berbagi secara sukarela dan bergotong royong dengan bangsa-bangsa lainnya.

Contoh sederhana untuk mewujudkan kedaulatan pangan bisa dengan mengonsumsi pangan lokal dari para petani kita sendiri terutama mereka yang menerapkan sistem pertanian organik, sehingga kesehatan terjaga, petani kita makmur, dan ramah lingkungan.

Oleh karena itu Serikat Petani Indonesia (SPI), Koalisi Anti Utang (KAU) dan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Indonesia mengajak para mahasiswa se-Indonesia untuk ikut mendukung kedaulatan pangan dan mengekspresikannya lewat foto.

Panitia menyediakan hadiah uang saku bagi 1 (satu) foto ekspresi diri terbaik dan 2 (dua) buah foto terfavorit.

Ketentuan Peserta

1. Peserta masih terdaftar sebagai mahasiswa/i S-1 di perguruan tinggi negeri atau swasta di seluruh Indonesia, per 16 Oktober 2011

2. Peserta memiliki keinginan untuk mengembangkan pangan lokal dan mewujudkan kedaulatan pangan.

Pengiriman Foto

1. Pengiriman foto hanya dapat dilakukan melalui dua cara yakni via Facebook dan twitter (bisa salah satu saja).

2. Peserta harus mengunggah foto di fanpage facebook I-Food ( http://on.fb.me/pangan ) atau juga bisa dengan mention ke akun twitter @berdaulatpangan

3. Peserta mengirimkan email yang berisikan tentang data diri (nama, alamat, no.telepon, asal perguruan tinggi, umur dan akun facebook/twitter yang digunakan) ke email panitia di berdaulatpangan@gmail.com

4. Peserta harus bergabung di fanpage facebook I-Food, dan bagi yang mengirimkan via twitter harus mem-follow akun @berdaulatpangan

5. Peserta harus menyetujui dan menandatangani Petisi Kedaulatan Pangan yang terdapat di dalam fanpage facebook I-Food ( atau akses di http://on.fb.me/pkpangan )

6. Peserta bisa mengirimkan lebih dari satu foto dengan resolusi foto minimal 480 piksel untuk sisi terpendeknya.

7. Olah digital dibolehkan.

8. Foto yang dikirimkan harus merupakan foto ekspresi diri yang isinya menjelaskan dukungan peserta terhadap kedaulatan pangan (contoh-contoh foto bisa dilihat disini ).

9. Setiap foto yang dikirimkan mohon dilengkapi deskripsi singkat tentang foto Pengiriman foto diterima panitia selambat-lambatnya pada 02 Oktober 2011, pukul 24.00 WIB.

Kriteria Penilaian, Ketentuan Lainnya dan Hadiah
1. Panitia menyediakan hadiah uang tunai sebesar Rp 750.000 untuk 1 (satu) foto terbaik pilihan panitia dan hadiah uang tunai sebesar Rp 500.000 untuk 2 (dua) buah foto terfavorit.

2. Untuk foto terbaik panitia menilai kreativitas peserta dalam mengekspresikan dirinya dan seberapa kuat pesan yang terkandung dalam foto.

3. Untuk foto terfavorit ditentukan melalui jumlah Like terbanyak di facebook dan RT (Retweet) terbanyak di twitter. Penghitungan Like dan RT (Retweet) ditutup pada tanggal 07 Oktober 2011, pukul 24.00 WIB.

4. Pemenang diumumkan pada tanggal 10 Oktober 2011 melalui FanPage Facebook I-Food dan twitter @berdaulatpangan.

5. Pemenang akan dihubungi pantia melalui telepon.

6. Keputusan panitia bersifat mutlak, dan setiap foto yang dikirimkan menjadi hak milik panitia.

Kontak lebih lanjut: 

Tegar : 082199798422 | @tegarputuhena
Adied: 085361003040 | @theadied
Atau lihat di fanpage facebook I-Food ( http://on.fb.me/pangan ) atau akun twitter @berdaulatpangan

Sekretariat Panitia:
DEWAN PENGURUS PUSAT SERIKAT PETANI INDONESIA (SPI)
Jl. Mampang Parapatan XIV, No.5 Jakarta – Indonesia, 12790
Telp. +62 21 799 1890 Fax. +62 21 799 3426

By Administrator with No comments